Langsung ke konten utama

Merindu-Mu

Detik demi detik berjalan begitu cepat, berjalan terus tanpa henti, tiada berbekas. Itulah yang dirasakan saat hati tak lagi sejalan dengan akal. Mungkinkah itu yang dinamakan mati rasa? Saat melakukan banyak pekerjaan, mulai dari yang wajib sampai yang sunnah. Namun, tatkala melakukannya tak ada rasa apapun, hanya berlalu begitu saja, hanya sekedar menggugurkan kewajiban. Apakah benar itu yang dinamakan mati rasa?
Saat melakukan pekerjaan baik, tetapi bukan diniatkan karena Allah, apakah bisa disebut dengan ibadah? Sedangkan pekerjaan yang buruk dengan niat karena Allah, apakah bisa disebut ibadah? Mengapa hal-hal itu sering muncul saat ini, saat di mana mulai tumbuh semangat baru? Apakah salah mempertanyakannya? Harus apakah makhluk lemah ini menjalaninya?
Saat-saat muncul perasaan itulah sebenarnya kita sedang diuji, sampai mana keimanan dan ketakwaan kita. Saat-saat sendiri, saat di mana harus berjuang, bukan hanya memikirkan diri sendiri namun juga orang lain. Saat hubungan ini melemah, saat semuanya terasa berbeda, jauh dari kata lebih baik. Saat merasa jauh dari rahmat dan karunia-Nya, bagaimanakah seharusnya diri ini?
Merenung, dan merenung, muhasabah untuk merencanakan masa depan yang jauh lebih baik, bersama orang-orang terdekat yang kita sayangi dan cintai. Dibutuhkan waktu untuk merenunginya, namun jangan sampai meratapinya. Lalu, take action, karena kesempatan itu tidak datang dua kali dalam hidup. Saat kesempatan itu datang, manfaatkanlah dengan sebaik-baiknya, dan jadikan kegagalan yang lalu sebagai pelajaran untuk menjadi lebih baik.
Saat tahu semua ini karena hubungan dengan-Mu terpaut jauh, ingin rasanya dekat lagi dengan-Mu, wahai Sang Khalik. Bagaimanakah bisa hamba yang lemah ini jauh dari-Mu, yang Maha segala-galanya? Bagaimanakah bisa hamba hidup tanpa-Mu, sedangkan Engkau pemilik segalanya... Maafkanlah hamba-Mu yang penuh dengan dosa ini, ampunilah hamba. Hamba rindu akan kasih sayang dan cinta-Mu kepada hamba, seperti dulu, seperti hamba baru diberikan hidayah dari-Mu. Akankah bisa hamba kembali seperti dulu? Namun, juga dibutuhkan teman-teman yang menguatkanmu.
Wahai saudariku, kuatkanlah pundakmu untuk menjalani semua ini. Jangan merasa lemah karena sendiri, karena ada orang-orang terdekatmu yang selalu memperhatikan, memberimu semangat, dan diam-diam mendoakanmu dalam diam. Percayalah, ada doa yang sampai kepadamu untuk kebaikanmu kini.
“Jika kau berada di jalan Allah, berlarilah kencang. Jika sulit, maka tetaplah berlari, meski hanya berlari-lari kecil. Bila lelah, berjalanlah. Apabila semua itu tak mampu dilakukan, tetaplah maju meski harus merangkak dan jangan pernah sekalipun berbalik arah.” (Al Imam As-Syafi’i).


Eliya Yusda

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dahulu dan Sekarang

Tak terasa waktu berjalan begitu cepat, rasanya baru kemarin diriku dilahirkan. Kini, aku telah beranjak dewasa. Sudah tahu harus ke mana kaki ini melangkah. Kembali bernostalgia ke masa anak-anak. Indah sekali saat itu, banyak kenangan melintas dipikiranku. Tentang kejadian lucu, senang maupun sedih. Tak bisa kuungkapkan semua, terlalu banyak dan rumit. Namun, ada satu kebiasaan aku dahulu yang masih sama sampai sekarang, yaitu suka sekali   ngemil . Daripada harus makan nasi, lebih suka dan betah kalo di rumah ada makanan ringan yang dimakan. Cepat sekali makanan itu habis, dibandingkan makanan berat. Aku selalu suka ngemil tanpa memikirkan orang lain. Tapi kini berbeda, aku suka sekali berbagi. Walaupun ngemil, tapi tetap menawarkan atau membaginya. Mungkin karena pikiranku pun sudah berubah. Rasanya lebih nikmat dan berkah jika membaginya daripada makan sendiri. Alhamdulillah, sekarang sudah belajar berbagi dalam hal apapun.        ...

Produktifkah?

Satu kata yang terbesit dalam hati. Apakah semua yang kulakukan produktif? Atau hanya sekedar menunaikan kewajiban. Aku sibuk dengan berbagai macam kegiatan. Namun, apakah semua itu produktif? Sudah menghasilkan apakah aku selama ini. Apa saja yang telah aku lakukan untuk kebaikan diriku dan keluargaku? Apa yang sudah kulakukan untuk orang-orang sekitarku? Sudahkah aku bermanfaat untuk mereka? Ataukah aku hanya mementingkan diriku sendiri? Aku termenung saat melihat salah satu tulisan mengenai produktif atau hanya sibukkah aku. Beberapa waktu lalu, aku bebincang dengan salah satu tetangga di rumahku. Ia bercerita tentang karakter yang ia miliki. Ia sangat menjunjung tinggi akhlak. Aku kagum dengan beliau, dan aku merasa lebih bersemangat menjalani semuanya. Semuanya harus lillah. Tetapi jangan lupa dengan manfaat apa yang telah kita lakukan untuk orang-orang sekitar kita. Terutama orang yang paling dekat dengan kita, yaitu keluarga, dan selanjutnya masyarakat sekitar. Jangan sampa...