Detik demi detik berjalan begitu cepat, berjalan terus tanpa
henti, tiada berbekas. Itulah yang dirasakan saat hati tak lagi sejalan dengan
akal. Mungkinkah itu yang dinamakan mati rasa? Saat melakukan banyak pekerjaan,
mulai dari yang wajib sampai yang sunnah. Namun, tatkala melakukannya tak ada
rasa apapun, hanya berlalu begitu saja, hanya sekedar menggugurkan kewajiban.
Apakah benar itu yang dinamakan mati rasa?
Saat melakukan pekerjaan baik, tetapi bukan diniatkan karena
Allah, apakah bisa disebut dengan ibadah? Sedangkan pekerjaan yang buruk dengan
niat karena Allah, apakah bisa disebut ibadah? Mengapa hal-hal itu sering
muncul saat ini, saat di mana mulai tumbuh semangat baru? Apakah salah
mempertanyakannya? Harus apakah makhluk lemah ini menjalaninya?
Saat-saat muncul perasaan itulah sebenarnya kita sedang
diuji, sampai mana keimanan dan ketakwaan kita. Saat-saat sendiri, saat di mana
harus berjuang, bukan hanya memikirkan diri sendiri namun juga orang lain. Saat
hubungan ini melemah, saat semuanya terasa berbeda, jauh dari kata lebih baik.
Saat merasa jauh dari rahmat dan karunia-Nya, bagaimanakah seharusnya diri ini?
Merenung, dan merenung, muhasabah untuk merencanakan masa
depan yang jauh lebih baik, bersama orang-orang terdekat yang kita sayangi dan
cintai. Dibutuhkan waktu untuk merenunginya, namun jangan sampai meratapinya.
Lalu, take action, karena kesempatan itu tidak datang dua kali dalam
hidup. Saat kesempatan itu datang, manfaatkanlah dengan sebaik-baiknya, dan
jadikan kegagalan yang lalu sebagai pelajaran untuk menjadi lebih baik.
Saat tahu semua ini karena hubungan dengan-Mu terpaut jauh,
ingin rasanya dekat lagi dengan-Mu, wahai Sang Khalik. Bagaimanakah bisa hamba
yang lemah ini jauh dari-Mu, yang Maha segala-galanya? Bagaimanakah bisa hamba
hidup tanpa-Mu, sedangkan Engkau pemilik segalanya... Maafkanlah hamba-Mu yang
penuh dengan dosa ini, ampunilah hamba. Hamba rindu akan kasih sayang dan
cinta-Mu kepada hamba, seperti dulu, seperti hamba baru diberikan hidayah
dari-Mu. Akankah bisa hamba kembali seperti dulu? Namun, juga dibutuhkan
teman-teman yang menguatkanmu.
Wahai saudariku, kuatkanlah pundakmu untuk menjalani semua
ini. Jangan merasa lemah karena sendiri, karena ada orang-orang terdekatmu yang
selalu memperhatikan, memberimu semangat, dan diam-diam mendoakanmu dalam diam.
Percayalah, ada doa yang sampai kepadamu untuk kebaikanmu kini.
“Jika kau berada di jalan Allah, berlarilah kencang. Jika
sulit, maka tetaplah berlari, meski hanya berlari-lari kecil. Bila lelah,
berjalanlah. Apabila semua itu tak mampu dilakukan, tetaplah maju meski harus
merangkak dan jangan pernah sekalipun berbalik arah.” (Al Imam As-Syafi’i).
Eliya
Yusda
Komentar
Posting Komentar